Ibarat Mencuci Piring
00:42:00
Halo semua!
Admin J di sini. Gak mau panjang lebar, intinya di post ini gue cuma mau berbagi sedikit aja,
kalau gue sangat terinspirasi sama post yang dipublish sama admin H beberapa
waktu yang lalu. Postingan dia yang kemarin itu bener-bener ngebuka mata gue
dari kepalsuan yang hampir selama ini jadi semacam selaput katarak yang
membatasi jarak pandang gue.
Seperti yang
udah H tulis, ternyata bukan hanya dia yang merasa demikian, namun gue juga
agak gak terbiasa dengan pergaulan yang harus gue terima saat masa awal masuk
SMA. Gue gak tau ini karena gue yang aneh, apa gimana, tapi itu yang gue
rasakan. Mungkin karena gue sama H berasal dari SMP yang sama… dan yup, sekolah
kita yang dulu itu cuma punya 63 murid di angkatan kita. Sekarang di SMA banyak
banget kelompok-kelompok yang terpecah di sana sini. Dan pastinya kalian tau
lah kalau yang namanya pergaulannya perempuan itu jauh lebih mengerikan
daripada pergaulan para priaa.
Pergaulan yang
baru ini ibarat teori mencuci piring.
Di mana saat gue mulai asik menikmati makanan yang disajikan, waktu gue lagi
mulai menemukan zona aman dalam pergaulan yang unfamiliar, gue menemukan sebatang tulang diantara daging yang
sedang gue makan itu. Apabila tulang yang gue makan itu nyangkut di gigi/gusi,
pasti sakit kan rasanya? Demikian yang gue alami. Menurut gue pribadi kejadian
waktu itu merupakan salah satu impact paling besar yang pernah gue alami selama
ini. Di saat lu diadili rame-rame, lu dimintain keterangan, tapi lu juga ga
dikasih kesempatan buat bicara di saat itu juga.
Setelah itu lu
harus memperbaiki lagi semuanya, membuang sampah-sampah yang jelek, membuang
tulang-tulang tadi ke tempat sampah. Lalu piring kotor tadi disikat bersih,
dibilas, dan dilap sampai kering. Demikian juga lu harus membuang aura negatif
itu jauh-jauh dari otak sampai bersih. Mungkin bagian disikat itu gak enak.
Mungkin rasanya sakit. Tapi mau gak mau itu bagian dari proses, kan? Dan pada
akhirnya piring tadi diletakkan di rak piring yang baik adanya. Tapi dalam konteks
ini jangan tiru gue ya; gue membuang beban pikiran gue itu dengan cara
melupakannya; literally benar-benar
melupakannya. Di situ lah di mana
gue salah. Dan gue melanjutkan hari-hari selanjutnya dengan mengintip dari
balik selaput katarak yang menutup mata gue tadi. Selaput itulah yang jadi
tembok besar penghalang bagi gue = segala rasa ke-pura-pura-tidak-tahu-an.
Kalau waktu itu H gak update blog dengan post yang itu, mungkin gue sampe
sekarang pun gak akan sadar dan inget. Thanks admin H!
Intinya gue gak
pernah menyesal pernah kenal dengan temen-temen yang luar biasa, walaupun
mungkin ada yang pernah bikin gue kecewa berat sampe rasanya kayak tersedak
tulang ayam sekalipun, gue bangga bisa kenal kalian. Terutama salah satu yang
paling gue sayang dan yang udh gak bisa bareng-bareng lg sekarang, kayanya ini
baru kali pertama gue sayang sama seorang sahabat sampe sedemikian lebainya
haha. Walaupun gue tau posisi gue yang waktu itu sangat terjepit ibarat pepatah “keluar lubang buaya, masuk lubang tinja”,
gue mau ngucapin makasih banget ke temen-temen yang support gue sebisa mereka.
Bahkan sampe ada yang ikut keseret-seret juga. Gue secara personal minta maaf.
(Walaupun gue sendiri kurang yakin post ini bakal dibaca atau engga, I’m just
saying.).
Well, that’s it
… I guess. Intinya jangan jadi seperti gue: kaget dan gak siap;
waktu dapet impact sedemikian rupa. Hidup itu penuh rintangan, lu mungkin gak
tau apa yang ada di depan lu suatu saat nanti kan? Di dunia ini ada banyak
sekali karakter manusia. Lu harus belajar membaca orang, bagaimana berperilaku
yang baik supaya gak menyinggung, etc. Mungkin gue memang gak pandai berbahasa,
tapi yaa paragraf terakhir ini cuma saran singkat dari gue aja kok.
The point is:
jangan mudah menyerah kalah, jangan sombong, keep humble, dan berserah kepadaNya.
Karena DIA yang udah nyiapin blueprint untuk hidup kita kedepannya. Karena di saat kita ga mampu bangkit sendiri,
tanganNya dengan kuat menopang kita untuk berdiri lagi. GBU!
0 comments